Rabu, 13 Maret 2013

IBD - Keragaman Budaya Daerah (Kalimantan Barat - Robo - Robo)

Keragaman Budaya Daerah Pontianak (Robo'-Robo')


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang
Indonesia adalah Negara yang kaya akan kebudayaan, tradisi serta adat istiadat yang mana sampai sekarang masih dipertahankan, salah satunya adalah tradisi robo-robo yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Kalimantan Barat trutama masyarakat Mempawah, Kabupaten Pontianak, di kecamatan Kakap Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Acara Robo-robo juga diisi dengan kegiatan lainnya,seperti lomba sampan, permainan gasing, lomba kasidah, makan bersama dan hiburan masyarakat.
B.     Tujuan
-  Menjelaskan tentang tradisi robo-robo
-  Menjelaskan tentang tujuan dan manfaat dari tradisi robo-robo
C.    Rumusan masalah
-  Apa itu tradisi robo-robo
-  Apa tujuan dan manfaat dari tradisi robo-robo

BAB II
PEMBAHASAN
      1.      Pengertian Adat istiadat dari Tradisi Robo-robo

Tradisi adalah sebuah kebiasaan atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun dari nenek moyang didaerahnya. Tradisi dan budaya juga merupakan beberapa hal yang menjadi sumber dari akhlak dan budi pekerti. Sedangkan adat istiadat adalah merupakan sebuah wujud dari rasa daya cipta suatu bangsa begitu juga adat budaya yang masih tetap ada di wilayah Kalimantan Barat sebagai sebuah wilayah yang cukup luas yang ada di Indonesia, diantara provinsi Kalimantan Barat meliputi beberapa kabupaten yang mempunyai adat istiadat yang multikultural, dan masih tetap kuat untuk dipertahankan adat istiadat masyarakatnya.

Tradisi Robo – Robo itu sendiri diadakan pada hari Rabu terakhir bulan Sapar (Hijriah) yang menyimbolkan keberkahan. Menurut cerita, ritus ini merupakan peringatan atau napak tilas kedatangan Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan (Martapura) ke Kerajaan Mempawah (Pontianak). Ritual tersebut dimulai ketika Raja, Ratu Mempawah, putra-putrinya serta punggawa dan pengawal berangkat dari Desa Benteng, Mempawah, menggunakan perahu bidar, yakni perahu kerajaan dari Istana Amantubillah. Kapal tersebut yang  akan berlayar menuju muara Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan. Di muara sungai akan dilakukan semacam upacara "penyambutan" ke laut seperti ketika Opu Daeng Menambon tiba di muara sungai tersebut untuk pertama kalinya.

Robo-robo itu dimaksudkan jugasebagai suatu peringatan serangkaian kejadian penting bermula pada hari Senin malam Selasa terakhir bulan Syafar guna mengenang hari wafatnya Opu Daeng Manambon. Bagi warga keturunan Bugis di Kalbar, robo-robo biasanya diperingati dengan membaca doa selamat dan tolak bala, makan bersama keluarga dihalaman rumah. Tidak hanya dihalaman rumah, makan bersama juga dilakukan siswa diberbagai sekolah baik tingkat SD hingga SMU pada Rabu pagi.

      2.      Tujuan dan manfaat dari tradisi robo-robo
Tradisi Robo’-Robo’ yang  dikenal sebagai tradisi yang memperingati hari datangnya seseorang dari tanah bugis Sulawesi Selatan pada tahun 1637. Kedatangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon dari Bone, Sulawesi Selatan di abad ke-17 diabadikan dalam tradisi Robo’-Robo’. Upacara sakral yang sering dilakukan adalah berupa wujud dari rasa syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan, hal ini masih terus berlangsung secara terus menerus bagi masyarakat pendukungnya.Acara Robo-robo itu sendiri pertamakali dilakukan pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi bermula dengan kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk, selain dari wujud dan rasa syukur atas karunia yang diberikan sekaligus memohon keselamatan dan menolak  bala, memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pemujaan dan penghormatan kepada leluhur. Robo-robo juga bertujuan untuk untuk menggali hubungan antara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, seperti terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya, Secara tidak langsung tercipta sebuah  jalinan komunikasi antara satu dengan yang lainnya. Serta dapat dijadikan sebagai Budaya Wisata Nasional. Sehingga bisa menarik turis-turis dari luar negeri  untuk datang ke Kalimantan Barat menyaksikan acara robo-robo tersebut.  

      3.      Adat – adat dalam pelaksanaan upacara Robo – Robo.

A. Waktu Penyelenggaraan Rabu terakhir bulan Syafar ziara kekubur Opu Daeng Manambon
      ·         Selasa ziara pertama kemakam Opu Daeng Manambon kemudian diikuti dengan makam-  makam yang lain
      ·         Rabu Setelah sembahnyang subuh diadakan kenduri oleh setiap kelompok masyarakat di kota Mempawah.

B. Tempat Upacara
      ·         Makam Opu Daeng Manambon di Sebukit Rama.
      ·         Dipantai tempat pertama pendaratan Opu Daeng Manambon.
      ·         Kuala Mempawah jembatan Induk sampai daerah pantai.

C. Perlengkapan Upacara
      ·         Sesajian terdiri dari nasi pulut warna kuning,panggang ayam satu ekor, bertih beras kuning dan setanggi.
      ·         Air tepung tawar, air tolak bala dan ramuan bunga  
      ·         Makanan terutama ketupanbagi Masyarakat setempat    
      ·         Air tolak bala dan air salamun tujuh 
      ·         Nasi lauk pauk secukupnya.
      ·         Ketupat dan kue-kue
      ·         Disampaikan lomba bagi yang akan mengikuti lomba sampan

D.      Jalannya Upacara dan Tahap-tahap
      ·        Upacara ziarahan di mulai jam 07.00 pagi rombongan keluarga berangkat ke sebukit menuju ke makam Opu Daeng Manambon
      ·       Upacara kenduri. Masask-masak yang dilakukan oleh ibu-ibu digang-gang yang ada disekitar kampong.

E.      Pantangan-pantangan yang harus dihindari
      ·         Penduduk tidak boleh menggunakan sampan bercat kuning karena menyaingi ancang kuning.
      ·         Hari Selasa dan Rabu penduduk dilarang pergi melaut
      ·         Dilarang berselisih apalagi menumpahkan daa selama tiga hari
      ·         Tidak boleh berkayuh sendiri

F.       Lambang-Lambang
      ·         Lambang kuning melambangkan kebesaran, karena kendaraan air merupakan kendaraan raja, yang boleh kerabat istanah dan para pejabat Negara
      ·         Baras kunging melambangkan emas, bertih melambangkan perak. Untuk memanggil para arwah leluhur dalam upacara
      ·         Sajian air lauk paukmelambangkan sesajian kepada mahluk halus. 
      ·         Azan di Kuala Mempawah melambangkan panggilan pertama pada pendaratan opu Daeng Manambon
      ·         Air tolak balak tujuh melambangkan, upaya manusia untuk menolak bencana
      ·         Bunga setaman melambangkan sari wangi kesukaan para arwah
      ·         Air tepung tawar melambangkan penawaran terhadap bala bencana
      ·         Ketupat melambangkan kebebasan manusia dari bala bencana yang mengancam kehidupan
     ·         Upacara dipantai melambangkan membunag bvala bencana ke dalam sungai dan pantai agar musnah ditelan ombak.

Dari kegiatan upacara Robo-Robo tersebut berbagai etnis yang terdiri dari etnis Melayu, Dayak dan Cina mereka bersatu dan berinteraksi satu sama lain dan menjaga kerukunan bersama. Upacara itu tidak hanya diikuti oleh para kaum kerabat raja saja tetapi diikuti juga berbagai etnis yang berada di Kalimantan Barat. Hal itu yang menjadikan Kalimantan Barat harmonis dalam etnisnya. Artinya masyarakat dan pemerintah bergotong royong dan bekerja sama untuk menjaga pembangunan dan menjaga persatuan bangsa. Upacara robo - robo  ini telah menjadi kalender nasional tempat wisata Kalimantan Barat.

BAB III
PENUTUP
      A.    Kesimpulan
Budaya dan adat istiadat serta tradisi merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan/ dilaksanakan secara turun temurun,  salah satunya seperti robo-robo yang sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat di Kalimantan Barat.  yang bertujuan untuk mensyukuri atas nikmat rejeki, anugrah dan karunia dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Serta untuk menghormati para leluhur dan  menjalin silaturahmi antar sesama.
      B.     Saran
Sebaiknya dalam melakukan/melaksanakan  adat istiadat atau tradisi, tidak menyimpang dari ajaran-ajaran agama, seperti sirik dan mubajir sehingga bisa merusak kaidah agama.

DAFTAR PUSTAKA

Kamis, 10 Januari 2013

Dampak Sosialisasi Masyarakat Bagi Perkembangan Pendidikan


                                                                        Abstraksi
Sosialisasi masyarakat merupakan sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan  atau nilai dan aturan dari masyarakat terhadap individu dan dapat menghasilkan kebudayaan. Perkambangan pendidikan anak juga memiliki kaitan yang erat dengan sosialisasi masyarakat. Dalam prosesnya sosialisasi juga berkaitan dengan beberapa agen sosialisasi. Sosialisasi masyarakat dan perkembangan pendidikan sendiri memiliki pola dan jenis serta memberikan pengaruh satu dengan yang lainnya.

Bab 1. 
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang.
Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi setiap individu di masyarakat.  Baik itu pendidikan informal di keluarga, atau pendidikan formal ataupun nonformal yang sekarang telah banyak bermunculan di tengah-tengah masyarakat.  Pandangan masyarakat tentang pendidikan telah berubah. Hal itu terjadi karena tuntutan zaman yang mengharuskan masyarakat untuk menempatkan pendidikan di prioritas pertama.

Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor kehidupan, sebab kualitas kehidupan suatu bangsa sangat erat dengan tingkat pendidikan.

Sekolah merupakan pendidikan formal yang digunakan oleh seseorang sebagai media atau alat dalam sosialisasi dan interaksi di masyarakat. Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasilainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Peran sekolah dinilai sangat penting bagi maju dan berkembangnya masyarakat dan terjaminnya kebutuhan kehidupan mereka kelak di kemudian hari.

Pendidikan merupakan jasa yang berupa proses pembudayaan, pengertian ini berimplikasi terhadap adanya input dan output. Dalam hal ini yang menjadi input adalah peserta didik, sarana, prasarana, dan lingkungan, sedangkan outputnya adalah jasa pelayanan pendidikan, lulusan atau alumni dan hasil penelitian.

1.2 Rumusan masalah
·         Apa itu Sosialisasi, Tipe Sosialisasi,  Pola Sosialisasi, Proses Sosialisasi dan Pelaku Sosialisasi
·         Menjelaskan Dampak dari Sosialisasi bagi pendidikan.

1.3 Tujuan
·         Memahami secara umum apa itu sosialisasi dan Mengetahui Dampak sosialisasi itu bagi Pendidikan.

  



BAB 2
Pemahaman Tentang Sosialisasi

2.1. Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.
Berikut pengertian sosialisasi menurut para ahli :

Charlotte Buhler  : Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup, dan berpikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dengan kelompoknya.

Peter Berger  : Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.

Paul B. Horton  : Sosialisasi adalah suatu proses dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.

Soerjono Soekanto : Sosialisasi adalah proses mengkomunikasikan kebudayaan kepada warga masyarakat yang baru.

2.2. Jenis Sosialisasi
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua, Yaitu :

1. Sosialisasi primer (Dalam Keluarga)
Sosialisasi pada tahap-tahap awal kehidupan seseorang sebagai manusia. Sosialisasi pertama yang dialami individu semasa kecil, dimana ia belajar menjadi anggota masyarakat, dipelajari dalam keluarga

2. Sosialisasi sekunder (Dalam Masyarakat)
Proses berikutnya yang memperkenalkan individu pada lingkungan di luar keluarganya, seperti sekolah, lingkungan bermian, dan lingkungan kerja.

2.3. Tipe sosialisasi
Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda. Ada dua tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.
Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.

2.4 Pola Sosialisasi
Sosiologi dapat dibagi menjadi dua pola, Yaitu :
  1. Sosialisasi represif : Penggunaan hukuman terhadap kesalahan, penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan peran keluarga sebagai significant other
  2. Sosialisasi partisipatoris : Anak diberi imbalan ketika berperilaku baik, hukuman dan imbalan bersifat simbolik, pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak, dan keluarga menjadi generalized others
2.5 Proses Sosialisasi
Pendapat George Herbert Mead bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut.

- Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri.

- Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa.

- Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran.
       
      - Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas.

Menurut Charles H. Cooley lebih menekankan peranan interaksi dalam teorinya. Menurut dia, Konsep Diri seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Sesuatu yang kemudian disebut looking-glass self terbentuk melalui tiga tahapan sebagai berikut.

        
      - Kita membayangkan bagaimana kita di mata orang lain.
Seorang anak merasa dirinya sebagai anak yang paling hebat dan yang paling pintar karena sang anak memiliki prestasi di kelas dan selalu menang di berbagai lomba.
        
      - Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai kita.
Dengan pandangan bahwa si anak adalah anak yang hebat, sang anak membayangkan pandangan orang lain terhadapnya.
- Bagaimana perasaan kita sebagai akibat dari penilaian tersebut.
Dengan adanya penilaian bahwa sang anak adalah anak yang hebat, timbul perasaan bangga dan penuh percaya diri.

Dari 3 tahapan di atas berkaitan erat dengan teori labeling, dimana seseorang akan berperan sesuai denganapa yang orang nilai terhadap dirinya. Walaupun penilaian itu sebenarnya belum tentu benar.

2.6  Agen Sosialisasi
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu :

Keluarga :
·     Peran agen sosialisasi pada tahap awal  (primer) sangat penting. pentingnya keluarga sebagai  agen sosialisasi pertama terletak pada beberapa kemampuan yang diajarkan dalam tahap ini. Seorang bayi akan belajar berkomunikasi secara verbal dan non vebal pada tahap ini
·     Melalui interaksi dalam keluarga, anak mempelajari pola perilaku, sikap, keyakinan cita-cita, dan nilai dalam keluarga dan masyarakat
·     Contoh : Pola perilaku dam sikap anggota keluarga yang cenderung disiplin akan musah terinternalisasi dalam diri seorang anak sehingga menjadikannya selalu bersikap disiplin

2    Kelompok Teman Sepermainan :
·     Pada tahap ini, anak memasuki game stage, fase dimana ia mulai mempelajari berbagai aturan tentang peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat. Dengan bermain, ia mulai mengenal nilai-nilai keadilan, kebenaran, toleransi, atau solidaritas
·     Contoh : Bermain dengan teman tidak boleh curang atau mau menang sendiri. Apabila curang dan mau menang sendiri, maka teman-temannya tidak akan mau lagi bermain dengannya.

3     Sekolah :
·     Robert Dreeben berpendapat bahwa yang dipelajari anak di sekolah disamping membaca, menulis, berhitung adalah aturan mengenai kemandirian, prestasi, universalisme, dan spesifitas
·     Mandiri – Di rumah : Anak dapat mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Di sekolah : Sebagian besar tugasnya harus dilakukan sendiridengan penuh rasa tanggung jawab
·     Prestasi – Di rumah : Peranan seorang anak terkait dengan peranan-peranan yang dimilikinya, seperti peranan sebagai adik atau kakak. Di sekolah : Peranan yang menonjol adalah peranan yang diraih dengan menunjukkan prestasi
·     Universalisme – Di rumah : Anak cenderung mendapatkan perlakuan khusus. Di sekolah : Siswa mendapatkan perlakuan yang sama (universalisme)
·     Spesifitas – Di sekolah : Kegiatan siswa dan penilaian dibatasi secara spesifik, contoh : kekeliruan yang dilakukan siswa dalam pelajaran mat tidak mempengaruhi penilaian gurunya pada pelajaran bahasa Indonesia. Di rumah : Kegiatan anak dan penilaian terhadapnya tidak dilakukan secara spesifik seperti di sekolah.

4    Media massa :
·     Bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar orang
·     Minat anak-anak terhadap siaran televisi membuat media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi
·     Contoh : Penayangan film-film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku yang keras pada anak

2.7 Agen-agen lain
Selain keluarga, sekolah, kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama, tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat, dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh agen-agen ini sangat besar.

3. Pendidikan

3.1 Peranan Pendidikan.
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manuia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal ( sekolah ) saja. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkunga itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan manusia untuk mencapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang berada diluar lingkungan formal.

3.2 Fungsi  pendidikan
Fungsi Pendidikan terbagi menjadi 5, yaitu :

1. Pengembangan kecerdasan pikiran dan pengetahuan: sekolah adalah sebuah lembaga yang di samping mengembangkan pribadi anak didik secara menyeluruh juga merupakan lembaga penelitian guna pengembangan ilmu dan pengetahuan secara lebih ilmiah. 

2. Spesialisasi: Di dalam fungsi ini, sekolah memberikan bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan secara terpola dan secara sistematis dengan mempertimbangkan bakat dan minat dari peserta didik sehingga mereka mampu menjadi seseorang yang memiliki keahlian khusus di bidangnya  
     
     3. Sosialisasi: sekolah mempunyai peranan yang penting di dalam proses sosialisasi, yaitu proses membantu perkembangan individu menjadi makhluk sosial, makhluk yang dapat beradaptasi dengan baik di masyarakat. 

     4. Konservasi dan transmisi kultural: sekolah memelihara warisan budaya yang hidup dalam masyarakat dengan jalan menyampaikan warisan kebudayaan tadi (transmisi kultural) kepada generasi muda, dalam hal ini tentunya adalah anak didik.
  
     5. Transisi dari rumah ke masyarakat: ketika berada di keluarga, kehidupan anak serba menggantungkan diri kepada orang tua, maka memasuki sekolah, dia mendapatkan kesempatan untuk melatih diri sendiri dan tanggung jawab sebagai persiapan sebelum ke masyarakat.


3.3. Dampak Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan sangatlah luas, meliputi : Sekolah, Tempat Kursus, Privat, Rumah Tangga, Pergaulan Antar Teman, Hubungan dengan Masyarakat, dan lainnya. Dengan kemajuan teknologi informasi, maka pihak orang tua dan guru tidak dapat lagi membatasi lingkungan pendidikan yang semakin luas dan semakin mendunia. Akhirnya perkembangan anak didik menajdi semakin sulit di lihat, baik  oleh gurunya maupun orang tuanya.

A. Dampak positifnya:

1.  Dampak positif bagi siswa : Seorang siswa akan mengalami kemajuan yang pesat dalam hasil belajarnya, jika semua lingkungan pendidikan saling mendukung satu sama lainnya, umpamanya : Kesibukan belajarnya di sekolah diikuti dengan berpartisipasi dalam kelompok ilmiah remaja, di luar sekolahnya,  dan didorong dengan motivasi dan fasilitas dari keluarganya, sehingga siswa dapat mengaplikasikan semua pengetahuannya secara nyata.
2.  Dampak positif bagi masyarakat : Dengan banyaknya kelompok ilmiah remaja, dan kelompok lainnya yang melaksanakan kegiatan yang bersifat positif dan konstruktif, maka diprediksi angka  kenakalan remaja akan menurun, bukan saja masyarakat akan lebih tenang, tapi juga akan muncul  calon tokoh masyarakat di masa depan dari remaja-remaja yang berprestasi.

B.        Dampak negatifnya  :
1.  Dampak negatif  bagi siswa : Seorang siswa akan mengalami kesulitan belajar, jika semua lingkungannya tidak saling mendukung satu sama lainnya, umpamanya : keluarganya pecah/broken home dan urakan, lingkungan pergaulannya rusak dengan narkoba dan dekadensi moral, dan pelajarannya dianggap kurang sesuai dengan tuntutan suasana kerja, dan lain-lain. Jika pihak orang tua mengharapkan segalanya dari pendidikan formal/sekolah adalah harapan yang kurang tepat, dan kemungkinan akan mengalami kekeewaan, karena semua lingkungan pendidikan yang tidak saling mendukung, akan menghambat hasil belajar yang maksimal dari setiap anak didik.
2.  Dampak negatif bagi masyarakat : Masa remaja yang sedang mecari identitas diri, jika salah pergaulan dalam lingkungannya, akan menyusahkan masyarakat. Jika mereka bergaul dengan kelompok pencandu narkoba, mereka akan menjadi pecandu narkoba. Jika bergaul dengan kelompok teroris, mereka akan menjadi teroris, dan lain-lain.   Sedangkan mereka belum mampu berfikir kritis, dan belum mampu untuk menolak ajakan/rayuan/jebakan dari kelompok-kelompok tersebut. Tidak adanya kepedulian serta sikap tidak mau tahu, dan acuh dari anggota masyarakat, terhadap kegiatan kelompok remaja, akan memperburuk situasi. Sikap menyalahkan remaja juga bukan sikap yang bijaksana, tetapi akhirnya tetap saja masyarakat sendiri yang akan menanggung resiko yang mahal.

3.4. Fungsi Lingkungan Pendidikan Terhadap Proses Pendidikan Manusia
Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
  1. pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya
  2. pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan
  3. pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain.
Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia. Lingkungan sekolah sebagai bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan, sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat praktek dari bekal yang diperoleh di keluarga dan sekolah sekaligus sebagai tempat pengembangan kemampuan diri.


  

BAB 3
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Proses mencapai tujuan pendidikan untuk menghasilkan manusia yang unggul baik secara pribadi maupun penguasaan ilmu pengetahuan tidak hanya tergantung tentang bagaiamana sistem pendidikan dijalankan oleh lingkungan pendidikan formal. Namun juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga serta lingkungan masyarakat. Antara lingkungan pendidikan yang satu dan lingkungan yang lain yang disebut sebgaia tripusat. Pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, namun ada hubungan saling mempengaruhi diantara lingkungan pendidikan.

B. Saran
Setiap remaja dan anak didik haruslah berusaha untuk “bersikap terbuka” dengan mau berterus terang kepada orang tuanya/walinya dan gurunya yang dipercaya untuk membicarakan masalah pribadinya dan mendiskusikannya, sehingga ditemukan jalan keluar sebaik-baiknya, bersikap tertutup untuk “masalah-masalah yang berat” adalah kurang tepat. Dengan ditemukannya jalan keluar terbaik, maka semua beban pikiran dan beban mental akan terasa sangat ringan (plong rasanya) dan akan mampu lebih berkonsentrasi kepada pelajaran.




Daftar Pustaka