Selasa, 20 Januari 2015

Karangan Ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Pendidikan memiliki peranan yang sangat vital serta merupakan suatu wadah yang sangat tepat di dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta harus menjadi prioritas secara optimal dan berkesinambungan, agar kualitas peserta didik pada jenjang pendidikan. Jadi, sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia. Di era globalisasi yang di tandai dengan kemajuan dunia ilmu informasi dan teknologi, memberikan banyak perubahan dan tekanan dalam segala bidang. Dunia pendidikan yang secara filosofis di pandang sebagai alat atau wadah untuk mencerdaskan dan membentuk watak manusia agar lebih baik, sekarang sudah mulai bergeser atau disorientasi.
Pendidikan bagi kehidupan manusia merupakan kebutuhan primer atau mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan sama sekali mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang dengan cita-cita untuk maju, sejahtera, dan bahagia menurut konsep pandangan hidupnya. Dalam pengertian sederhana dan umum makna pendidikan adalah usaha sadar manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan agama.
Perlu kita ketahui bahwa fungsi pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembanganya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlakul karimah, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh. Pendidikan budi karakter merupakan bagian yang sangat penting dari pendidikan kita.

B. Tujuan
1. Bagi Penulis
Penulisan ini disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen dalam mata kuliah Bahasa Indonesia. Selain itu, bagi kami sendiei juga diharapkan bisa digunakan untuk menambah pengetahuan dan wawasan yang lebih sebagai mahasiswa, baik dalam lingkup Universitas  maupun lingkungan sosial.
2. Bagi Pembaca
Penulisan ini dibuat untuk membahas pentingnya pendidikan bagi kita dan mengembangkan pendidikan yg telah di rintis oleh ki hajar dewantara dan apa dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan dan menambah ilmu pengetahuan mengenai globalisasi.








    













BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pemikiran Ki Hadjar Tentang Pendidikan
Menurut Ki hadjar Dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi secara manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia. Menurut Ki Hadjar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan yang membentuk manusia. Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang menjadikan manusia sebenarnya. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus berhubungan satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah. Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin. Keinginan yang kuat dari Ki Hadjar Dewantara untuk generasi bangsa ini dan mengingat pentingnya guru yang memiliki kelebihan mental, moral dan spiritual. Ki Hadjar Dewantar sendiri berfikir untuk kepentingan mendidik, meneladani dan pendidikan generasi bangsa ini telah mengubah namanya dari jabatan keningratannya sebagai Raden Mas Soewardi Suryaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara. Perubahan nama tersebut dapat dimaknai bahwa beliau ingin menunjukkan perubahan sikap ningratnya menjadi pendidik, yaitu dari satria  pinandita ke pinandita satria (dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berwatak ksatria), yang mempersiapkan diri dan bersama peserta didiknya untuk melindungi bangsa dan negara ini.
Bagi Ki Hadjar Dewantara, para guru-guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan spiritual, lalu menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Yang utama sebagai seorang pendidik adalah fungsinya sebagai contoh keteladanan dan sebagai motivator di kelas kepada peserta didik. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, saling menghormati, saling menghargai dan empati kepada setiap peserta didik. Maka hak setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi kuat secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan diri dari suatu lingkungan sosial; pendidikan hendaknya memperkaya berbagai hal pada setiap individu akan tetapi perbedaan diantara masing-masing pribadi dan perbedaan latar belakang individu (seperti: ras, suku, agama, jenis kelamin, dll) juga harus dipertimbangkan dan diperhatikan; pendidikan hendaknya akan dapat memperkuat rasa percaya diri, dan dapat mengembangkan harga diri tiap individu; setiap orang harus dapat berlaku hidup secara sederhana dan guru hendaknya mampu dan mau serta rela mengorbankan kepentingan-kepentingan hidup pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.
Menterjemahkan dari konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara tersebut, maka banyak pakar menyepakati bahwa pendidikan di Indonesia haruslah memiliki 3 Landasan filosofis, yaitu nasionalistik, universalistik dan spiritualistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam yang dapat dikategorikan sebagai hukum sebab akibat. Spiritualistik artinya segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasar 3 landasan filosofis tersebut adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri manusia. 
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, tentang metode yang sesuai dengan sistem pendidikan di bangsa kita ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Metode ini secara teknik pengajaran meliputi ‘kepala, hati dan panca indera’. Metode Asah yaitu metode pendidikan yang hanya mengembangkan aspek intelektual. sikap hidup bersama antar sesama umat dan sesama makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi, sebab setiap individu tidak dapat memisahkan diri dari orang di lingkungan sekitarnya, selain itu pendidikan juga hendaknya memperkaya berbagai hal pada setiap individu yang mau menerima perbedaan diantara masing-masing pribadi dan mau menerima perbedaan latar belakang individu (seperti: ras, suku, agama, jenis kelamin, dll). Metode Asuh yaitu metode guru dalam mendidik hendaknya mampu dan mau serta rela mengorbankan kepentingan-kepentingan hidup pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.


B.       Pengaruh Pemikiran KI HADJAR DEWANTARA Dalam Pendidikan
Pengaruh pemikiran pertama dalam pendidikan adalah dasar kemerdekaan bagi setiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada pelaksanaan pengajaran maka hal itu merupakan upaya di dalam mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka demi pencapaian tujuannya dan perlunya kemajuan sejati untuk diperoleh dalam perkembangan kodrati, maksudnya bahwa upaya pendidikan diharapkan dapat mengubah peserta didik untuk menjadi insan yang mandiri yang tidak ada ketergantungan maupun tergantung pada pihak manapun.
Pendidikan diartikan sebagai daya upaya untuk memberikan tuntutan pada segala kekuatan kodrat yang ada pada anak- anak, supaya mereka baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup lahir dan batin yang setinggi- tingginya (Aliran- aliran Pendidikan dan Pengajaran Dengan Tokoh- tokohnya, 1974 : 93) kesempatan anak didik untuk berjalan sendiri. Inilah yang disebut dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”.


A.    Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dalam pengertian yang sederhana dan umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
Berbicara pendidikan sangat erat kaitannya dengan kemajuan peradaban manusia. Karena pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang tidak pernah bisa ditinggalkan. Sebagai sebuah proses, ada dua asumsi yang berbeda mengenai pendidikan dalam kehidupan manusia. Pertama, ia bisa dianggap sebagai proses yang terjadi secara tidak disengaja atau berjalan secara alamiah. Dalam hal ini, pendidikan bukanlah proses yang diorganisasikan dan direncanakan secara sistematis, melainkan merupakan bagian kehidupan yang memang telah berjalan sejak manusia itu ada. Kedua, pendidikan bisa dianggap sebagai proses yang terjadi secara di segaja, direncanakan, dan didesain dengan sistematis berdasarkan aturan-aturan yang berlaku terutama perundang-undangan yang dibuat atas dasar kesepakatan masyarakat.
Tujuan-tujuan pendidikan misalnya secara umum orang memahami bahwa tujuan pendidikan adalah mengarahkan manusia agar memiliki pengetahuan, cerdas, serta memiliki wawasan ketrampilan agar siap menghadapi tantangan kehidupan dengan potensi-potensinya yang telah diasah dalam proses pendidikan.  Akan tetapi, proses realitas yang terjadi dan sering kita jumpai adalah proses dan hasil pendidikan tidak sesuai dengan cita-cita yang indah. Mislanya, kita justru melihat realitas pendidikan yang terkesan menghasilkan manusia-manusia yang kehilangan potensi dirinya, manusia yang serakah, merusak dan penindas baru bagi kaum yang lemah.
B.     Pengertian Pembentukan Karakter
Hakekat karakater ialah Menurut Simon Philips, karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema, memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri, atau karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sementara Winnie, memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan “personality”. Seseorang baru bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.
Dalam hal ini akar dari semua tindakan yang jahat dan buruk, tindakan kejahatan, terletak pada hilangnya karakter. Karakter yang kuat adalah sandangan fundamental yang memberikan kemampuan kepada populasi manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebajikan, yang bebas dari kekerasan dan tindakan-tindakan tidak bermoral.
Karakter tidak diwariskan, tetapi sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan hari demi hari melalui pikiran dan perbuatan, pikiran demi pikiran, tindakan demi tindakan. Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Untuk memahami makna pembangunan karakter dan mengapa hal itu penting, ada suatu kisah yang menarik yang akan penulis sampaikan. Suatu ketika, ada seorang pendidik yang mengusulkan kepada seorang kepala sekolah agar dalam penerimaan peserta didik baru tidak menggunakan tes ujian masuk dalam model apapun. Reaksi sang kepala sekolah menjadi tekaget-kaget luar biasa. “Kalau penerimaan peserta didik baru tidak melalui tes terdahulu, pasti sekolah ini nanti akan banyak diisi oleh peserta didik yang bodoh-bodoh dan nakal-nakal. Terus bagaimana kualitas lulusan kita nanti”. Demikian alasan sang kepala sekolah.
Kemudian, ia menjelaskan alasannya kepada kepala sekolah tersebut. Alasannya begini: para peserta didik baru itu pada dasarnya tidak ada yang bodoh, tidak ada yang nakal, tidak ada yang kekurangan sifatnya. Dengan demikian, setelah para peserta didik baru yang masuk tanpa tes itu diterima, mereka kemudian akan menjalani penelitian kecerdasan yang dimiliki masing-masing. Hal ini dalam istilah ilmi psikologi pendidikan disebut Multi Intelegences Research (MIR). Tindakan tersebut digunakan untuk mengetahui gaya belajar peserta didik, sebuah data yang sangat penting yang harus diketahui oleh para guru yang akan mengajar mereka.
Menurut penulis, cerita pendidik tersebut memang ada benarnya juga. Pendidikan adalah proses pembangunan karakter. Jadi, sudah seharusnya tak menjadi sebuah masalah bagi siapa pun yang akan masuk di dalamnya (sekolah). Pembangunan karakter adalah prose membentuk karakter, dari yang kurang baik menjadi yang lebih baik. Senada dengan kata-kata filosof kaliber Plato (428-347 SM), beliau mengatakan “Jika Anda bertanya apa manfaat pendidikan, maka jawabannya sederhana: Pendidikan membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berperilaku baik”.
C.    Hubungan Antara Pendidikan dan Pembentukan Karakter
“Manusia hanya dapat menjadi sungguh-sungguh manusia melalui pendidikan dan pembentukan diri (character) yang berkelanjutan. Manusia hanya dapat dididik oleh manusia lain yang juga dididik oleh manusia yang lain”, begitu kata Immanuel Kant. Artinya bahwa, pendidikan dan pembentukan karakter sejak awal munculnya pendidikan oleh para ahli dianggap sebagai hal yang niscaya dan saling berhubungan.
John Dewey, misalnya, pada tahun 1961, pernah berkata juga. “Sudah merupakan hal lumrah dalam teori pendidikan bahwa pembentukan watak atau karakter merupakan tujuan umum pengajaran dan pendidikan budi pekerti di sekolah. Pendidikan karakter pada hakikatnya ingin membentuk individu menjadi seorang pribadi bermoral yang dapat menghayati kebebasan dan tanggung jawabnya, dalam relasinya dengan orang lain dan dunianya di dalam komunitas pendidikan. Komunitas pendidikan ini bisa memiliki cakupan lokal, nasional, maupun internasional (antar negara).
Sejalan dengan implementasi pendidikan karakter, UNESCO dalam empat pilar pendidikan secara implisit sebenarnya juga menyinggung perlunya pendidikan karakter. Seperti kita ketahui ada empat pilar pendidikan yang diharapkan ditegakkan dalam implementasi pendidikan diseluruh dunia, yang meliputi; learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Dua pilar terakhir learning to be, dan learning to live together pada hakekatnya adalah implementasi dari pendidikan karakter.
Dengan demikian, pendidikan karakter mempunyai visi senantiasa mengarahkan diri pada pembentukan individu bermoral, cakap mengambil keputusan yang tampil dalam perilakunya, sekaligus mampu berperan aktif dalam membangun kehidupan bersama. Pendidikan karakter dimulai dari lingkungan keluarga karena lingkungan inilah yang pertama kali dikenal oleh seseorang sejak ia lahir. Lingkungan keluarga sangat berpengaruh karena merupakan dasar dari pembentukan karakter seseorang. Selanjutnya lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan dan sampai pada lingkungan pendidikan (sekolah).
a.      Posisi Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Nasional
Dalam kebijakan nasional ditegaskan, antara lain bahwa pembangunan karakter bangsa merupakan kebutuhan asasi dalam proses berbangsa dan bernegara. Sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia sudah bertekad untuk menjadikan pembangunan karakter bangsa sebagai bahan penting dan tidak dipisahkan dari pembangunan nasional.
Secara ekplisit pendidikan karakter (watak) adalah amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang pada pasal 3 menegaskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Potensi peserta didik yang akan dikembangkan seperti beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab pada hakikatnya dekat dengan makna karakter. Senada dengan sembilan pilar pendidikan karakter yang telah dilansir oleh Kementrian Pendidikan Nasional antara lain. (1). Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, (2). Kemandirian dan Tanggung jawab, (3). Kejujuran dan Diplomatis, (4). Hormat dan Santun, (5). Dermawan, Suka tolong menolong, dan Gotong royong, (6). Percaya diri dan Kerja keras, (7). Kepemimpinan dan Keadilan, (8). Baik dan Rendah hati, dan (9). Toleransi, Perdamaian, dan Kesatuan.
Disamping itu pelaksanaanya juga harus tetap memperhatikan K4 (kesehatan, kebersihan, kerapian, dan keamanan). Dengan demikian pengembangan potensi tersebut juga harus menjadi landasan implementasi pendidikan karakter di Indonesia.
b.      Implementasi Pendidikan Karakter di Indonesia
Sebelum pada implementasi di Indonesia, sebaiknya kita mengetahui hasil Sarasehan Nasional Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Hal ini yang selanjutnya menghasilkan sebuah Kesepakatan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa yang dinyatakan sebgai berikut:
a). Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari pendidikan nasional secara utuh.
b). Pendidikan budaya dan karakter bangsa harus dikembangkan secara komperhensif sebagai proses pembudayaan. Oleh karena itu, pendidikan dan kebudayaan secara kelembagaan perlu diwadahi secara utuh.
c). Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, sekolah, dan orang tua. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa harus melibatkan keempat unsur tersebut.
d). Dalam upaya merevitalisasi pendidikan budaya dan karakter bangsa diperlukan gerakan nasional guna menggugah semangat kebersamaan dalam pelaksanaan di lapangan.
Kemudian bagaimana implementasi pendidikan karakter di Indonesia. Menurut Kementrian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter harus meliputi dan berlangsung pada.
1). Pendidikan Formal
Pendidikan karakter pada pendidikan formal berlangsung pada lembaga pendidikan TK/RA, SD/MI, SMP/MTS, SMA/MAK dan Perguruan Tinggi melalui pembelajaran, kegiatan kokurikuler dan atau ekstra-kurikuler, penciptaan budaya satuan pendidikan, dan pembiasaan. Sasaran pendidikan formal ialah peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.
2). Pendidikan Nonformal
Dalam pendidikan nonformal pendidikan karakter berlangsung pada lembaga kursus, pendidikan kesetaraan, pendidikan keaksaraan, dan lembaga pendidikan nonformal lain melalui pembelajaran, kegiatan kokurikuler dan atau ekstra-kurikuler, penciptaan budaya lembaga, dan pembiasaan.
3). Pendidikan Informal
Dalam pendidikan informal pendidikan karakter berlangsung dalam keluarga yang dilakukan oleh orang tua dan orang dewasa di dalam keluarga terhadap anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya.
c.       Strategi dan Metodelogi Pendidikan Karakter
Strategi disini dapat dimaknai dalam kaitannya dengan kurikulum, strategi dalam kaitannya dengan model tokoh, serta strategi dalam kaitannya dengan metodologi. Dalam kaitannya dengan kurikulum, startegi yang umum dilaksanakan adalah mengintergrasikan pendidikan karakter dalam bahan ajar. Artinya, tidak membuat kurikulum pendidikan karakter tersendiri. Strategi yang kaitannya dengan model tokoh yang sering dilakukan dunia pendidikan di negara-ngara Barat adalah bahwa seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah harus mampu menjadi model teladan yang baik (uswah hasanah).
Dalam kaitannya dengan metodologi, strategi yang umum diimplementasikan pada pelaksanaan pendidikan karakter di negara-negara Barat antara lain adalah strategi pemanduan, pujian dan hadiah, definisikan dan latihan, penegakan disiplin, dan juga perangai bulan ini. Dan strategi lain yang harus dipraktekan oleh guru pada umumnya ialah keaktifan guru bimbingan dan konseling sebagai pendidik karakter.
Strategi pengembangan karakter yang diterapkan di Indonesia yang dirancang oleh Kementrian Pendidikan Nasional (2010), antara lain. Melalui transformasi budaya sekolah dan habituasi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Menurut para ahli bahwa implementasi strategi pendidikan karakter melalui transformasi budaya dan perikehidupan sekolah, dirasakan efektif dari pada harus mengubah dengan menambahkan materi pendidiakan karakter kedalam muatan kurikulum.
Pusat Kurikulum Kementrian Pendidikan Nasional (2011) dalam kaitan pengembangan budaya sekolah yang dilaksanakan dalam kaitan pengembangan diri, menyarankan empat hal yang meliputi:
1). Kegiatan Rutin
Merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Misalnya, uapcara bendera setiap hari senin dan lainnya yang bersifat kontinyu.
2). Kegiatan Spontan
Merupakan kegiatan yang bersifat spontan, saat itu juga, pada waktu terjadi keadaan tertentu. Misalnya, mengumpulkan sumbangan bagi korban bencana alam dan lain-lain.
3). Keteladanan
Timbulnya sikap dan perilaku peserta didik karena meniru perilaku atau sikap orang lain seperti dalam lingkungan sekolah adalah guru dan tenaga kependidikan serta seluruh warga dewasa sekolah yang lainnya yang berada pada sekitanya. Sehingga sudah menjadi keharusan bagi guru, tenaga kependidikan, dan orang dewasa memberi telada sikap dan perilaku yang baik.
4). Pengondisian
Merupakan usaha menciptakan kondisi yang kondusif untuk terlaksananya proses pendidikan karakter. Misalnya, kondisi meja guru dan kepala sekolah yang ditata rapi, dan kondisi toilet bersih dan tidak bau.

BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab yang pada hakikatnya sangat dekat dengan perannya untuk membentuk manusia yang berkarakter baik.
Dengan demikian, pendidikan karakter mempunyai visi senantiasa mengarahkan diri pada pembentukan individu bermoral, cakap mengambil keputusan yang tampil dalam perilakunya, sekaligus mampu berperan aktif dalam membangun kehidupan bersama dalam tantangan global. Kemudian menurut Kementrian Pendidikan Nasional, pendidikan karakter harus meliputi dan berlangsung pada.
1). Pendidikan Formal (pemerintah)
2). Pendidikan Nonformal (masyarakat)
3). Pendidikan Informal (keluarga)
Yang dari ketiga lembaga pendidikan di atas dalam implementasinya harus saling berkerja sama dan melengkapi dengan baik, hal demikian dilakukan agar terbentuknya sebuah kondisi dan suasana yang kondusif serta nyaman dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter bagi setiap manusia.

B.       Daftar Pustaka
Soeratman Darsiti : Ki Hadjar Dewantara, Balai Pustaka, Jakarta, 1985.
Sagimun : Ki Hajar Dewantara, Bhratara, Jakarta, 1964.
Sayoga : Riwayat Perjuangan Taman Siswa 30 Tahun (1922 - 1952), ML Taman Siswa Yogyakarta, 1952.


            

Jumat, 21 November 2014

Kalimat Efektif

KALIMAT EFEKTIF


Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat Efektif merupakan kalimat yang mengungkapkan suatu pikiran atau gagasan untuk disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.

Ciri-ciri kalimat efektif:

- Kesepadanan
Dalam Kalimat efektif harus memenuhi unsur gramatikal yaitu SPOK (Subjek, Predikat, Objek dan Keterangan). Di dalam kalimat efektif harus memiliki keseimbangan dalam pemakaian struktur bahasa

     - Kecermatan dalam Pemilihan dan Penggunaan Kata
Dalam membuat kalimat efektif jangan sampai menjadi kalimat yang ambigu (menimbulkan tafsiran ganda).

     - Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif maksudnya adalah hemat dalam mempergunakan kata, frasa atau bentuk lain yang di anggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

      - Kelogisan
  Bahwa ide kalimat itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan  ejaan yang berlaku.

 - Kesatuan atau Kepaduan
Maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi yang disampaikannyA tidak terpecah-pecah.

- Keparalelan atau Kesejajaran
Kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu.






EYD (Ejaan yang Disempurnakan)

Merawat Tanaman Hias

Tanaman hias merupakan tanaman yang berfungsi untuk menambah keindahan. Tanaman hias dapat diletakkan di dalam atau di luar ruangan, baik di rumah, di kantor, atau di mena saja. Berbagai jenis tanaman hias dijual dengan harga bervariasi. Agar tanaman hias dapat tampil dengan indah, harus dirawat dengan baik. Kualitas dari tanaman hias yang bersifat unik, langka, dan terawat akan memberikan nilai jual yang sangat tinggi.

Dalam merawat tanaman hias, seseorang harus mengetahui karakteristik dan kebutuhan tanaman. Sebagai contoh, misalnya merawat tanaman bonsai , seseorang harus mengetahui sifat-sifat dan kebutuhan tersebut sehingga dapat tumbuh dengan sehat. Demikian juga untuk merawat tanaman hias yang lain juga harus mengetahui sifat-sifat dan kebutuhannya.

Pada dasarnya setiap jenis tanaman hias memiliki sifat-sifat dan kebutuhan yang berlainan. Misalnya, tanaman teratai atau tanaman bunga Kamboja. Kedua jenis tanaman tersebut memiliki sifat dan kebutuhan yang berbeda. Tanaman teratai seharusnya ditanam di kolam atau tempat berair, sedangkan tanaman Kamboja tidak membutuhkan banyak air sehingga seharusnya tidak ditanam di dalam kolam seperti halnya tanaman teratai.

Diksi

Diksi



Pemanasan Global (Global Warming)

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan lebih memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan oleh uap air yang merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara merata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering daripada sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan daripada sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.


Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya dan mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Kamis, 20 November 2014

Alenia

Alinea tidak lain adalah dari suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Alinea bertujuan untuk memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema yang lain serta memisahkan dan menegaskan perkataan secara wajar dan formal. Alenia atau Paragraf merupakan suatu bentuk  dari bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Untuk menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraf,  kita perlu memperhatikan kesatuan dan kepaduan. Karena alenia  yang efektif harus memenuhi dua syarat yaitu Kesatuan paragraf dan kepaduan paragraf. Kesatuan kalimat  berarti pada seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan. Sedangkan Kepaduan berarti pada seluruh kalimat didalam paragraf itu kompak dan saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.

            Dalam kenyataannya kadang-kadang kita menemukan alinea yang hanya terdiri atas satu kalimat, dan hal itu memang dimungkinkan. Namun, dalam pembahasan ini wujud alinea semacam itu dianggap sebagai pengecualian karena disamping bentuknya yang kurang ideal jika ditinjau dari segi komposisi, alinea semacam itu jarang dipakai dalam tulisan ilmiah. Paragraf diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari sudut pandang komposisi, pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab formal yang sederhana boleh saja hanya terdiri dari satu paragraf. Jadi, tanpa kemampuan menyusun paragraf, tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.

Syarat-Syarat pembentukan Alenia :

Kesatuan 
Semua kalimat yang mendukung alenia secara bersama-sama mendukung sebuah  ide.

Koherensi
Saling berhubungan sebuah kalimat dengan kalimat lainnya yang membentuk sebuah alenia.

Pengembangan
Sebuah alenia memiliki sebuah pengembangan gagasan atau ide pokok dengan menggunakan kalimat pendukung.

Efektif
Dengan penggunaan kalimat yang efektif, maka ide akan disampaikan secara tepat.


Pola Pengembangan Alenia:

Alenia Deduktif 
Kalimat utamanya terdapat pada bagian awal kalimat.

Alenia Induktif         
Kalimat utamanya terdapat pada bagian akhir kalimat.

Alenia Campuran     
Kalimat utamanya terletak di awal dan ditegaskan kembali pada bagian akhir.

Alenia Diskriptif       
Kalimat utamanya yang tersirat pada seluruh kalimat di paragraph.


Berikut ini adalah jenis-jenis paragraph :

Paragraf Deduksi
Deduksi berarti berfikir dari umum ke khusus. Paragraf ini penempatan kalimat topiknya selalu diawal.

Paragraf Induksi
Paragraf yang pengembangannya dimulai dari pemaparan bagian-bagian kecil atau hal-hal yang konkret hingga sampai kepada suatu simpulan yang bersifat umum disebut paragraf induksi. Induksi berarti cara berfiikir dari khusus ke yang umum. Pada paragraf seperti ini penempatan kalimat topiknya berada diakhir paragraf.

Paragraf Campuran
Dalam paragraf campuran penempatan kalimat topiknya di tengah paragraf. Paragraf ini di mulai oleh kalimat pengembang setelah kalimat atau kata transisi kalau ada. Setelah itu, kalimat topik di kembangkan lagi dan diakhiri oleh kalimat penegas kalau diperlukan.

Paragraf Perbandingan
Pengembangan Paragraf perbandingan dilakukan dengan cara membanding-bandingkan kalimat topik. Misalnya, kalimat topik mengenai hal yang bersifat abstrak dibandingkan dengan hal yang bersifat konkret dengan cara merinci perbandingan tersebut dalam bentuk yang konkret atau bagian bagian kecil.

Paragraf Pertanyaan
Kalimat topik dalam paragraf pertanyaan berbentuk kalimat tanya dan kalimat-kalimat pengembangan dalam paragraf jenis ini juga biasa merupakan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut.

Paragraf Sebab-Akibat
Kalimat topik paragraf sebab-akibat merupakan sebab atau akibat peristiwa-peristiwa atau sifat objek yang dipaparkan dalam kalimat pengembang. Jika kalimat topiknya berupa sebab maka kalimat pengembangnya harus merupakan akibat dari sebab itu. Sebaliknya jika kalimat topiknya berupa akibat, kalimat pengembangnya harus merupakan sebab-sebab dari akibat itu.


Paragraf Perulangan
Pengembangan paragraf perulangan dilakukan dengan cara mengulang kata atau kelompok kata. Pengembangan paragraf perulangan juga bisa dilakukan dengan cara mengulang bagian-bagian kalimat yang penting.

Paragraf Definisi
Dalam paragraf definisi kalimat topiknya merupakan sesuatu pengertian atau istilah yang memerlukan penjelasan secara panjang lebar agar maknanya mudah dipahami oleh pembaca. Alat untuk memperjelas pengertian itu ialah kalimat pengembang.

Paragraf Deskriptif
Kalimat topik dalam paragraf deskriptif tidak tersurat seperti pada paragraf-paragraf yang lain. Kalimat topik paragraf ini tersirat pada semua kalimat pengembang. Kita akan mengetahui kallimat topik setelah selesai membaca paragraf karena kalimat topik paragraf deskriptif merupakan simpulan semua paparan dalam paragraf.

Pengembangan Paragraf
Pengembangan paragraf sangat berkaitan erat dengan posisi kalimat topik karena kalimat topiklah yang mengandung inti permasalahan atau ide utama paragraf. Pengembangan paragraph deduktif, misalnya, yang menempatkan ide/gagasan utama pada awal paragraf, pasti berbeda dengan pengembangan paragraf induktif yang merupakan kebalikan dari paragraf deduktif. Demikian juga dengan tipe paragraf yang lainnya.

Didalam mengarang, keenam metode pengembangan paragraf tersebut dapat dipakai silih berganti sesuai dengan keperluan mengarang si penulisnya.Metode-metode tersebut ialah :

Metode Definisi

Yang dimaksud dengan definisi adalah usaha penulis untuk menerangkan pengertian/konsepistilah tertentu. Untuk dapat merumuskan definisi yang jelas, penulis hendaknya memperhatikan klasifikasi konsep dan penentuan cirri khas konsep tersebut. Satu hal yang perlu diingat dalam membuat definisi, kita tidak boleh mengulang kata atau istilah yang kita definisikan di dalam teks definisi itu

Metode Proses

Sebuah paragraf dikatakan memakai metode proses apabila isi alinea menguraikan suatu proses. Proses ini merupakan suatu urutan tindakan atau perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu. Bila urutan atau tahap – tahap kejadian berlangsung dalam waktu yang berbeda, penulis harus menyusunnya secara runtut (kronologis). Banyak sekali peristiwa atau kejadian yang prosesnya berbeda satu sama lainnya. Proses kerja suatu mesin , misalnya, tentu berbeda sangat jauh dengan proses peristiwa sejarah.

Metode Contoh

Dalam karangan ilmiah, contoh dan ilustrsi selalu ditampilkan. Contoh-contoh terurai, lebih-lebih yang memerlukan penjelasan rinci tentu harus disusun berbentuk paragraf.

Metode Sebab-Akibat

Metode sebab-akibat atau akibat-sebab (kausalitas) dipakai untuk menerangkan suatu kejadian dan akibat yang ditimbulkannya, atau sebaliknya. Factor yang terpenting dalam metode kausalitas ini adalah kejelasan dan kelogisan. Artinya, hubungan kejadian dan penyebabnya harus terungkap jelas dan informasinya sesuai dengan jalan pikiran manusia. Metode kausalitas atau sebab-akibat umumnya tampil di tengah karangan yang berisi pembahasan atau analisis. Sifat paragrafnya argumentative murni atau dikombinasikan dengan deskriptif ata eksposisi.

Metode Umum-Khusus

Metode umum-khusnya dan khusus-umum paling banyak dipakai untuk mengembangkan gagasan paragraf agar tampak teratur. Bagi penulis pemula, belajar menyusun paragraf dengan metode ini adalah yang paling disarankan. Pertimbangannya, di samping mengembangkan urutan umum-khusus relative lebih gampang,juga karena model inilah yang paling banyak dipakai dalam karangan ilmiah dan tulisan eksposisi seperti arikel dalam media massa.

Metode Klasifikasi

Bila kita akan mengelompokan benda-benda atau non benda yang memiliki persamaan ciri seperi sifat, bentuk, ukuran, dan lain-lain, cara yang paling tepat adalah dengan metode klasifikasi. Klasifikasi sebenarnya bukan khusu untuk persamaan factor tersebut di atas, tetapi juga untuk perbedaan. Namun, pengelompokan tidak berhenti pada inventarisasi persamaan dan perbedaan. Setelah dikelompokan, lalu dianalisis untuk mendapatkan generalisasi, atau paling tidak untuk diperbandingkan atau dipertentangkan satu sama lainnya.

Paragraf menurut teknik pemaparannya dapat dibagi dalam empat macam, yaitu deskriptif, ekspositoris, agumentatif, dan naratif.

Deskriptif
Paragraf deskriptif disebut juga paragraf melukiskan (lukisan). Paragraf ini melukiskan apa yang terlihat di depan mata. Jadi, paragraf ini bersifat tata ruang atau tata letak. Pembicaraannya dapat berurutan dari atas ke bawah atau dari kiri kekanan. Dengan kata lain, deskriptif berurusan dengan hal-hal kecil yang tertangkap oleh pancaindra.

Ekspositoris
Paragraf Ekspositoris disebut juga paragraf paparan. Paragraf ini menampilkan suatu objek. Tertuju pada satu unsur saja. Penyampainnya dapat menggunakan perkembangan analisis atau keruangan.

Argumentatif
Paragraf argumentatif sebenarnya dapat dimasukkan ke dalam ekspositoris. Paragraf argumentatif disebut juga persuasi. Paragraf ini lebih brsifat membujuk atau menyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek. Biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis.

Naratif
Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi haya kita temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.

Rabu, 15 Oktober 2014

Ragam Bahasa

Indonesia ialah Negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dengan beraneka ragam bahasa, suku dan kebudayaan. Ragam bahasa merupakan suatu penggunaan bahasa yang bervariasi, bermacam-macam dan berbeda-beda yang digunakan oleh si penutur kata tersebut. Hal seperti ini merupakan semacam interaksi berkomunikasi yang tidak semua orang mengerti maksud dari pembicaraan tersebut dan dengan bahasa Indonesia semua bias mengerti maksud dari pembicaraan itu.

Ragam bahasa juga disebabkan oleh banyaknya wilayah dengan bahasa khas dari kebudayaan setiap daerahnya sejak zaman dulu. Dengan bahasa Indonesia, keanekaragaman bahasa suatu daerah itu menjadi bahasa yang bias kita pahami dan mengerti.

Ragam bahasa pada pokoknya terdiri dari 2 bagian, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.  Disampaikan melalui alat ucap (mulut) kepada lawan bicara adalah maksud dari ragam bahasa lisan. Sedangkan, ragam bahasa tulis  ialah suatu penyampaian yang kita lakukan dengan alat tulis yang nantinya kita tulis kedalam kertas dan dengan tata cara penulisan yang sesuai dengan apa yang mau kita ungkapkan.

Terdapat beberapa perbedaan antara ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.

Pada bagian ragam lisan sebagai berikut :
  • Ragam lisan        : Unsur – unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa bahasa yang digunakan itu dapat dibantu dengan gerakan, mimik muka, pandangan, anggukan dan nada bicara/intonasi.
  • Ragam lisan        : Sangat terikat dengan kondisi, situasi, suasana, ruangan dan waktu. Pada saat berbicara secara lisan didalam sebuah ruang kelas, itu hanya berlaku disaat waktu itu saja. Saat perbincangan dalam ruang kelas di mulai, belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di sekitarnya.
  • Ragam lisan        : Bisa dipengaruhi oleh tinggi rendanya dan panjang pendeknya suara pada saat berbicara maupun memberi penjelasan.

Pada bagian ragam tulis sebagai berikit :
  • Ragam tulis        : sangat tidak terikat pada kondisi, situasi, suasana, ruangan dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuah buku yang diterbitkan pada tahun 1990 masih bisa dibaca dan di pahami oleh orang yang hidup pada tahun 2014.
  • Ragam tulis        : Fungsi gramatikal harus nyata, karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan kita untuk berbicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang di ajak untuk berbicara mengerti isi tulisan itu.
  • Ragam tulis        : Dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf bercetak miring sebagai penjelas suatu penyampaian agar dapat dimengerti oleh pembaca tulisan tersebut.

Berikut ini merupakan perbandingan dalam ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis yang berdasar dari penggunaan bentuk kata, kosakata, dan struktur kalimat.

1.       Penggunaan bentuk kata.

1.1. Ragam lisan
  • Fotocopy sertifikat juara lomba harus “dilegalisir dulu“ oleh masing – masing sekolah.
  • Retno “ngeliat “ kecelakaan itu secara langsung.
  • Ragil hari ini “tugas mengajar” di LAB SI.
1.2. Ragam tulis
  • Fotocopy sertifikar juara lomba harus “dilegalisasi dahulu” oleh masing – masing sekolah.
  • Retno “melihat” kecelakaan itu secara langsung.
  • Ragil hari ini “bertugas mengajar” di LAB SI.
2.       Penggunaan kosakata

2.1.  Ragam lisan
  • Jadwal rapat ini “gak” bisa “dirubah” lagi.
  • Boyke “nemui” jalan buntu pada saat pulang.
  • Perjalanan menuju bandara agak macet “disebabkan karena” para pendemo yang turun kejalanan.
2.2.  Ragam tulis
  • Jadwal rapat ini “tidak” bisa “diubah” lagi.
  • Boyke “menemukan” jalan buntu pada saat pulang.
  • Perjalanan menuju bandara agak macet “disebabkan oleh” para pendemo yang turun kejalanan.
3.       Penggunaan struktur kalimat

3.1.  Ragam lisan
  • “Meskipun” dia pegawai restoran, “tetapi” mereka tidak dilarang untuk memakan makanan yang ada di restoran.
  • Saat ujian nasional dia sangat “tergantung” oleh jawaban temannya.
  • “Karena” mendapat banyak saran yang berbeda-beda “akhirya” ia semakin binggung untuk mengerjakan tugasnya.
3.2.  Ragam tulis
  • “Meskipun” dia pegawai restoran, mereka tidak dilarang untuk memakan makanan yang ada  di restoran.
  • Saat ujian nasional  dia “bergantung” oleh jawaban temannya.
  • “Karena” mendapat banyak saran yang berbeda-beda, ia semakin binggung untuk  mengerjakaan tugasnya.
Selain ragam bahasa Lisan dan Tulis. Ada juga ragam bahasa ilmiah, semi ilmiah dan non ilmiah. Penjelasananya ialah sebagai berikut :
  •       Ragam Bahasa Ilmiah

Bahasa Ilmiah merupakan suatu artikel yang didalamnya terdapat nilai atau syarat dalam keilmuan. Maksudnya, dalam bahasa ilmiah itu seseorang harus menggunakan metode ilmiah saat sedang membahas permasalahan serta menggunakan prinsip keilmuan secara logis dan sistematis. Jika di tinjau dari Kamus, Ilmiah memiliki arti karya tulis yang lengkap dan disajikan kedalam suatu laporan.
  •       Ragam bahasa semi ilmiah

Bahasa semi ilmiah adalah sebuah karangan mengenai ilmu pengetahuan yang memberikan fakta dan menurut metodologi penulisannya dilakukan dengan baik dan benar, menggunakan bahasa formal dan didukung oleh fakta yang dapat dibuktikan kebenarannya. Bentuk karangan semi ilmiah seperti, artikel, opini, tips, dan reportase.
  •       Ragam bahasa non ilmiah.

Bahasa non ilmiah adalah sebuah karangan dari ilmu pengetahuan yang memberikan / menyajikan fakta dan ditulis secara metodologi penulisan yang baik dan benar. Salah satu ciri yang ada dalam non ilmiah ceritanya berupa sebuah rekaan. Maksudnya, dalam penulisannya tidak boleh sembarangan pada unsur-unsur yang terdapat didalamnya. Contoh karangan non ilmiah yaitu dongeng, cerpen, novel, puisi, hikayat dan lain-lain.

Sebagai salah satu contohnya ialah seperti berikut :
ini adalah contoh dari non ilmiah dengan bentuk cerpen. 

PENTINGNYA BERSIKAP UNTUK MEMIMPIN

Pentingnya bersikap untuk menjadi pemimpin merupakan tuntutan, dimana untuk mengambil berbagai sikap yang menjadi panutan untuk setiap orang mengambil sikap untuk di katakan dapat menghargai, mengambil sikap agar tidak merugikan sebelah pihak, dan mengambil sikap agar tidak disalahkan orang orang lain. Dalam pengambilan sikap tak jauh sesorang yang berjiwa pemimpin harus siap untuk di salahkan, harus siap untuk di komentari baik atau buruknya, harus siap pula untuk di tentang oleh banyak orang yang tak sependat dengan fikiran.

Untuk seribu banyak komentar orang tentang tindakan kita, orang yang berjiwa pemimpin harus mempunyai jiwa yang tidak mudah putus asa, emosional yang stabil, karena siap untuk di komentari orang buruk sekalipun dengan menyetarakan emosional yang baik agar tidak menjadi sikap emosi yang terlalu mengutamakan egoisme.

Berbicara tentang Pemimpin, setiap orang mempunyai jiwa kepemimpinan hanya saja untuk membentuknya perlu proses tidak segampang untuk membalikkan telapak tangan, orang yang telah memiliki jiwa pemimpin saja terkadang ada waktunya mengeluh, lelah, bahkan emosi yang melunjak tidak terkontrol dengan baik.

Suatu prinsip yang terpenting adalah ketika organ tubuh kita yang di berikan oleh tuhan digunakan dengan sebaik baiknya. Ada  mata pergunakan untuk melihat, ada telinga pergunakan untuk mendengar.  tanamkan dalam hati bahwa sebagai pemimpin yang baik harus mempunyai prinsip untuk melakukan segala sesuatu baik tindakan ataupun hal yang dapat merangsang orang untuk berkomentar, dan perlu keyakinan bahwa kita akan melakukan sesuatu yang baik dan terbaik meskipun segala sesuatu pasti terdapat omongan dan komentar dari setiap orang mau itu buruk ataupun baik.

Menjadi pemimpin bukan lah hal yang mudah sebab sikap sikap kepemimpinan bukan dari bakat sejak lahir atau pun dengan mempelajari dalam beberapa jam menit hal itu dapat terwujud, melainkan Sikap kepemimpinan merupakan sebuah proses yang terus menerus dalam tahap menjadi. Jadi sikap kepemimpinan dalam diri seseorang bukan sesuatu yang sifatnya pasti, tetap atau juga stagnan. Sikap itu terus membangun diri melalui serangkaian tempaan, sejalan dengan semakin matangnya pola pikir serta kedewasaan sikap.Sikap itu bukan sesuatu yang bisa mencapai tahap finish. Serangkaian proses yang tak pernah usai tersebut menjurus pada satu tujuan, menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

Selain sikap sekaligus tantangan bagi pemimpin ideal, pemimpin juga diharapkan mampu menjalani komunikasi dengan baik. Komunikasi adalah sebuah penengah (medium) antara pemimpin dan anggota. Komunikasi adalah kekuatan sekaligus kekuasaan. Ada pepatah "tak ada yang satu hal pun yang tak dapat diciptakan atau dihancurkan atau dapat diperbaiki dengan kata-kata", di mana kata adalah moda utama komunikasi. Selain itu seorang pemimpin harus mempunyai tujuan visi dan misi apa yang dilakukan,seorang pemimpin harus bersikap ramah pada siapapun, memiliki sifat yang fleksibel terhadap semua orang,dan dalam suatu organisasi seorang pemimpin tidak terlepas dari bebgai anggota anggota nya untuk mencapai sesuatu perlu kerjasama tim yang tidak terlepas karena manusia tidak akan bisa hidup untuk sendiri sudah hukum alam.


Untuk orang yang banyak memilki komentar yakinlah jadikan tersebut sebagai tujuan kita untuk maju dan terus berusaha memberikan yang terbaik. Dan yakinlah belum tentu orang tersebut dapat melakukan apa yang kita lakukan selagi apa yang kita lakukan itu baik. Toh pasti di setiap proses untuk menjalani hidup ada orang-orang yang sirik dalam kehidupan kita.