Kamis, 10 Januari 2013

Kualitas Lulusan Pendidikan Kesetaraan (Sekolah Paket) untuk meningkatkan sumber daya manusia

Abstraksi
 
Upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia telah menjadi acuan bagi pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan kepada warga masyarakat baik diselenggarakan secara formal maupun non formal. Pendidikan kesetaraan sebagai salah satu alternatif meningkatkan kualitas pendidikan penduduk Indonesia dipandang memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mendorong tercapainya kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang semakin baik.
Dengan mengkaji Hal – hal  yang berkaitan dengan potensi dan sumberdaya manusia tentang pendidikan kesetaraan, pembelajaran tentang pendidikan kesetaraan sudah mulai ditinjau dari tingkat pendidikan, sumberdaya yang ada, kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan kendala yang mungkin akan dihadapi dalam penyelenggaraan program kesetaraan ini.
 
I. PENDAHULUAN
Latar Belakang
 

Beragam persoalan selalu mengikuti proses penyempurnaan pembangunan di bidang pendidikan Indonesia. Baik di bidang pendidikan formal, non formal maupun informal. Semua bidang memiliki kendala sendiri-sendiri. Pada jalur non formal (program pendidikan kesetaraan khususnya kejar paket A,B dan C)misalnya, hingga kini masih banyak hambatan social masyarakat. Hal ini disebabkan karena orang yang seharusnya mengikuti program pendidikan ini mayoritas berusia di atas 44 tahun, sehingga rata-rata mereka beranggapan, tak ada gunanya melanjutkan ke kesetaraan. Penyebab lainnya karena adanya perasaaan malu di kalangan warga belajar sendiri karena program paket A ini untuk kesetaraan sekolah dasar.
Meski menyadari adanya hambatan, namun pemerintah tatap menjalankan program ini. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari pemerintah untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada setiap warga negaranya untuk mengakses pendidikan.
Karena begitu banyak persoalan-persoalan yang ada pada pendidikan non formal khusuisnya pada program kesetaraan kejar paket A, B dan C maka dalam makalah ini akan membahas tentang program kesetaraan kejar paket A, B dan C.

      Rumusan Masalah 
1.      Apa itu Pendidikan kesetaraan ? 
2.      Peranan dan Tujuan Pendidikan Kesetaraan 
3.      Pelaksanaan dan Proses Pendidikan kesetaraan. 
4.      Kendala yang di hadapi dan sasaran pendidikan kesetaraan.
5.   Sasaran Pendidikan Kesetaraan
6.   Kualitas Pendidikan Kesetaraan.
 
Tujuan Penulisan
 Pendidikan kesetaraan (Sekolah Paket) merupakan salah satu proses pengembangan pendidikan melalui jalur non-formal dan harus diketahui kualitas lulusannya. Maka ditulislah makalah ini agar masyarakat luas khususnya para mahasiswa dapat mengetahui tentang pendidikan kesetaraan juga kualitas lulusannya. 

II. PEMBAHASAN
1. Pengertian Pendidikan Kesetaraan
Pendidikan kesetaraan ini merupakan kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan luar sekolah sebagai suatu sub system pendidikan non formal. Yang dimaksud pendidikan non formal adalah “ pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat”. Dengan adanya batasa pengertian tersebut, rupanya pendidikan non formal tersebut berada antara pendidikan formal dan pendidikan informal.
Pendidikan Kesetaraan adalah salah satu satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang meliputi kelompok belajar (kejar) Program Paket A setara SD/MI, Program Paket B setara SMP/MTs, dan Program Paket C setara SMA/MA yang dapat diselenggarakan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pusat kegiatan belajar Masyarakat (PKBM), atau satuan sejenis lainnya.
Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan mengganti.
 
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka salah satu upaya yang ditempuh untuk memperluas akses pendidikan guna mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah melalui pendidikan kesetaraan. Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum yang mencakup Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMU).

2. Peranan dan Tujuan Pendidikan Kesetaraan.
2.1. Peranan Pendidikan Kesetaraan.
Peran pendidikan Kesetaraan yang meliputi program Paket A, B dan C sangat strategis dalam rangka pemberian bekal pengetahuan. Penyelenggaraan program ini terutama ditujukan bagi masyarakat putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, masyarakat yang bertempat tinggal di daerah-daerah khusus, seperti daerah perbatasan, daerah bencana, dan daerah yang terisolir yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai bahkan juga bagi TKI di luar negeri dan calon TKI.
 
Memahami nilai dan manfaat program pendidikan kesetaraan bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi pada program yang diselenggarakan dengan antusias.
 
Untuk skala nasional, penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan dimaksudkan sebagai upaya untuk mendukung dan mensukseskan program pendidikan wajib belajar 9 tahun yang merupakan penjabaran dari rencana strategis Departemen Pendidikan nasional yang meliputi perluasan akses, pemerataan, dan peningkatan mutu pendidikan.

2.2. Tujuan Pendidikan Kesetaraan.

Tujuan pendidikan kesetaraan program kejar paket A, B dan C adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga belajar sehingga dpat memiliki pengetahuan , keterampilan.

3. Pelaksanaan Proses Pembelajaran

Beberapa Pendekatan yang digunakan dalam proses Pembelajaran Pendidikan Kesetaraan antara lain :

-       Induktif adalah pendekatan yang membangun pengetahuan melalui kejadian atau fenomena empirik dengan menekankan pada belajar pada pengalaman langsung. Pendekatan ini mengembangkan pengetahuan peserta didik dari permasalahan tang paling dekat dengan dirinya. Membangun pengetahuan dari serangkaian permasalahan dan fenomena yang dialami oleh peserta didik dan yang diberikan oleh tutor, sehingga peserta didik dapat membuat kesimpulan dari serangkaian penyelesaian masalah yang dibuat.

-       Tematik adalah pendekatan yang mengorganisasikan pengalaman dan mendorong terjadinya pengalaman belajar yang meluas tidak hanya tersekat-sekat oleh batasan pokok bahasan, sehingga dapat mengaktifkan peserta didik dan menumbuhkan kerjasama.

-       Konstruktif adalah satu pendekatan yang sesuai dalam pembelajaran berbasis kompetensi, di mana peserta didik membangun pengetahuannya sendiri. Dalam pendekatan ini peserta didik telah mempunyai ide tersendiri tentang suatu konsep yang belum dipelajari. Ide tersebut mungkin benar atau tidak. Peranan tutor yaitu untuk membetulkan konsep yang ada pada peserta didik atau untuk membentuk konsep baru.

-       Partisipatif andragogis adalah pendekatan yang membantu menumbuhkankerjasama dalam menemukan dan menggunakan hasi-lhasil temuannya yang berkaitan dengan lingkungan sosial, situasi pendidikan yang dapat merangsang pertumbuhan dan kesehatan individu, maupun masyarakat.

4. Kendala yang dihadapai dalam Pendidikan Kesetaraan

Mengajak warga masyarakat untuk belajar di kelompok belajar (Kejar) paket tidaklah mudah. Sesuai denga sebutannya yakni Kejar, kita betul-betul harus mengejar para calon warga belajar ini. Memotivasi mereka dan menjelaskan akan pentingnya pendidikan. Untuk itu memang perlu memiliki kemampuan dalam melakukan pendekatan terhadap sasaran didik ini. Maklumlah, mereka adalah orang-orang yang bermasalah. Bermasalah dalam artian berkaitan dengan berbagai masalah seperti masalah ekonomi sehingga membuat mereka tidak mampu melanjutkan pendidikannya di pendidikan formal.
 
Faktor-faktor yang paling sering mempengaruhi kegagalan mereka melanjutkan pendidikan formalnya antara lain yang paling signifikan adalah faktor ekonomi. Oleh karena itulah faktor ekonomilah yang lebih mereka perhatikan dari pada pendidikan. Pada saat melaksanakan proses belajar ini juga sarat dengan menghadapi berbagai kendala seperti warga belajar yang bermalas-malasan. Kendala lainya adalah masalah cuaca yang kurang bersahabat. Terutama sekali saat-saat musim penghujan. Pada musim penghujan biasanya warga belajar malas keluar rumah untuk diajak belajar.
 
Untuk memberikan semangat (motivasi) kepada warga belajar agar tetap senang belajar, maka pengelola program pendidikan kesetaraan diharapkan juga mendirikan Taman bacaan masyarakat (TBM), yaitu merupakan sarana belajar bagi masyarakat untuk memperoleh informasi dan mengembangkan pengetahuan guna memenuhi minat dan kebutuhan belajarnya yang bersumber dari bahan bacaan dan bahan pustaka lainnya. Ini semacam perpustakaan mini dan tersebar untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari layanan perpustakaan. Ada dua sasaran prioritas utama sasaran pendirian taman bacaan masyarakat, pertama untuk peningkatan minat baca masyarakat dan kedua untuk memelihara kemampuan keaksaraan masyarakat. Disamping itu, diharapkan keberadaan TBM bisa menjadai tempat berkumpul warga masyarakat untuk sekedar ngobrol mempererat silaturahim tukar informasi untuk memperkaya wawasan. Dengan demikian TBM pun bisa berfungsi sebagai ruang publik untuk melakukan sosialisasi diri, termasuk mempromosikan/mengenalkan program-program pendidikan nonformal kepada masyarakat.

5. Sasaran Pendidikan Kesetaraan
      Berikut ini adalah sasaran Pendidikan Kesetaraan, yaitu :
    1. Kelompok masyarakat usia 15 – 44 yang belum tuntas wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. 
    2. Kelompok masyarakat yang membentuk komunitas belajar sendiri dengan flexi learning seperti komunitas sekolah rumah atau komunitas e- learning.
     
      Penduduk yang terkendala ke jalur formal karena berbagai hal berikut:
·  1. Potensi khusus seperti pemusik, atlet, pelukis dll,
·  2. Waktu seperti pengrajin, buruh, dan pekerja lainnya,
·  3. Geografi seperti etnik minoritas, suku terasing dan terisolir,
·  4. Ekonomi seperti penduduk miskin dari kalangan petani, nelayan, penduduk kumuh dan miskin perkotaan, pekerja rumah tangga, dan tenaga kerja wanita,
·  5. Keyakinan seperti warga pondok pesantren yang tidak menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah), bermasalah sosial/hukum seperti anak jalanan, korban Napza, dan anak Lapas. 
5.1     Karakteristik Sasaran Pendidikan Kesetaraan
Kelompok Usia  15 – 44 tahun, yang terdiri dari dua kelompok :
·         Kelompok usia 13-15 tahun (3 tahun di atas usia SD/MI) terdapat 583.487 orang putus SD/MI, dan 1,6 juta lebih yang tidak sekolah SD/MI.
·         Kelompok  usia  16-18  tahun  terdapat 871.875 orang putus SMP/MTs, dan 2,3 juta lebih yang lulus SD/MI tetapi tidak melanjutkan ke SMP/MTs.

5.2 Macam-macam Pendidikan Kesetaraan 

PAKET A:
·         Belum menempuh pendidikan di SD, dengan prioritas kelompok usia 15-44 tahun.
·         Putus sekolah dasar,
·        Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri,
·        Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (potensi, waktu, geografi, ekonomi, sosial dan hukum, dan keyakinan)
PAKET B:
·          Lulus Paket A/ SD/MI, belum menempuh pendidikan di SMP/MTs dengan prioritas kelompok usia 15-44  tahun.
·          Putus SMP/MTs,
·         Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri,
·         Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (potensi, waktu, geografi, ekonomi, sosial dan hukum, dan  keyakinan)
PAKET C:
·          Lulus Paket B/SMP/MTs,
·          Putus SMA/M.A, SMK/MAK,
·         Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri,
·         Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (potensi, waktu, geografi, ekonomi, sosial, hukum dan keyakinan)

6. Kualitas Lulusan Pendidikan Kesetaraan Dalam Menciptakan Sumber Daya Manusia            Pendidikan dilakukan untuk meningkatkan penampilan individu (SDM)  sesuai tugas yang diembannya atau kemampuan lain yang berkaitan dengan tugas itu, serta menimbulkan motivasi kerja.
Menurut Samuelson (1995: 752) sumber daya manusia diartikan sebagai modal dalam bentuk pengetahuan teknis dan keterampilan pada suatu lingkup pekerjaan sebagai hasil inventasi dari pendidikan dan pelatihan.
Hasil pembelajaran dari Pendidikan Kesetaraan adalah hasil belajar yang diperoleh warga belajar setelah terlibat dalam proses pembelajaran dan bermanfaat bagi warga belajar untuk  meningkatkan hidupnya sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara serta memungkinkan warga belajar memenuhi persyaratan untuk bekerja dan/atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dalam Pendidikan Kesetaraan, pengaruh outcome merupakan tujuan akhir dari program. Memperhatikan komponen pengaruh yang ditimbulkan oleh penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan akan tampak pada perubahan dalam aktivitas kegiatan lulusan dalam mengaplikasikan hasil pembelajaran yang telah diikuti dalam kehidupannya pada lingkungan keluarga, masyarakat maupun dalam lingkungan kerjanya.
      Pengaruh tersebut meliputi :      
    1. Perubahan taraf hidup lulusan yang ditandai dengan perolehan pekerjaan atau berwirausaha.         
  2. Membelajarkan orang lain terhadap hasil belajar yang telah dimiliki dan dirasakan manfaatnya oleh lulusan.
  3. Peningkatan partisipasinya dalam kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat, baik partisipasi buah  pikiran, tenaga, harta benda dan dana
Dalam Pendidikan Program Paket, dampak yang diperoleh kelulusan setelah mengikuti pembelajaran diantaranya, yaitu :
  1. Adanya kedisiplinan dalam mengikuti pekerjaan, bekerja sesuai dengan aturan dan tata tertib di lapangan.
  2. Pengembangan diri, termasuk di dalamnya ada peningkatan belajar mandiri, kemampuan untuk menjalin komunikasi dengan atasan maupun dengan rekan kerja, ramah, terbuka dan adanya partisipasi di lingkungan kerja.

BAB 3
Kesimpulan.
Pendidikan kesetaraan harus memperhatikan kualitas lulusannya itu terbukti dengan berbagai Keahlian yang mengharuskan peserta didiknya memiliki keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, memiliki keterampilan untuk menghadapi dunia kerja serta keterampilan untuk berwirausaha.

Daftar Pustaka
http://aswendo2dwitantyanov.wordpress.com/2012/05/14/pendidikan-kesetaraan-2/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar